Kim Ji Yeong lahir tahun 1982
BOOK

Kim Ji Yeong, Lahir Tahun 1982 oleh Cho Nam Joo- Potret Kisah Diskriminasi Perempuan di Korea Selatan Tahun 1982

Penulis: Cho Nam Joo

Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit: 2019

Jumlah Halaman: 192 Halaman

Buku ini menurutku mengangkat topic yang cukup menarik yaitu mengenai diskriminasi terhadap perempuan di Korea Selatan.

1982-1994

Kim Ji Yeong merupakan sebuah buku karya Cho Nam Joo asal Korea Selatan, buku ini mengisahkan tentang perjalanan hidup seseorang bernama Kim Ji Yeong yang lahir pada tahun 1982.

Ia adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Kim Ji Yeong mempunyai kakak perempuan bernama Kim Eun Young dan adiknya yang berjenis kelamin laki-laki.

Pada saat kakaknya dilahirkan ibu mereka menangis, dan kemudian neneknya mengatakan bahwa ia harus bersabar, mungkin kelak ia akan diberikan cucu laki-laki.

Percakapan tersebut bermakna seolah-olah melahirkan anak perempuan adalah hal yang paling memalukan bagi seorang Ibu.

Bahkan ibunya pun sampai tega melakukan aborsi pada adik Kim Ji Yeong karena mengetahui bahwa bayi yang dikandungnya berjenis kelamin perempuan.

Namun pada saat adik laki-lakinya lahir, keluarga mereka terutama neneknya sangat senang, karena pada saat itu laki-laki dianggap menjadi simbol kesuksesan bagi sebuah keluarga.

Karena hal inilah tingkat kelahiran di Korea Selatan pada tahun 1990-an menjadi sangat tidak seimbang, dari sebanyak 106 orang penduduk disana, maka 100 orangnya adalah laki-laki dan 6 orang adalah perempuan.

Sejak kecil ia sudah diminta oleh neneknya untuk mengutamakan adik bungsunya, ia selalu diberi tahu agar mendahulukan kebutuhan laki-laki dibanding dirinya, namun karena pada waktu itu usianya masih kecil jadi ia tidak terlalu memikirkan hal itu.

Ia juga menganggap itu adalah sesuatu yang wajar karena ia merasa bahwa ia harus mengalah untuk adiknya. Ia juga beranggapan bahwa hal-hal seperti itu adalah hal yang sudah biasa sehingga menurutnya perlakuan seperti itu adalah hal yang normal karena memang dahulu semua orang tua melakukannya.

Pada masa itu jika saudara perempuan yang bekerja keras sepanjang waktu demi membiayai pendidikan saudara laki-lakinya adalah sesuatu  yang dianggap wajar dilakukan.

Perempuan akan melakukan apapun demi melihat salah satu keluarga mereka yang laki-laki bisa mengenyam pendidikan layak bahkan sekalipun para perempuan itu lebih pintar dibanding saudara laki-laki mereka. Pada akhirnya mereka akan tetap mengalah.

Saat Kim Ji Yeong menginjak Sekolah Dasar, diskriminasi itu terus saja terjadi. Pada jam makan siang Murid laki-laki akan mendapatkan nomer antri untuk makan paling awal, setiap guru juga akan mendahulukan untuk menilai tugas anak laki-laki dibanding perempuan.

Baca Juga: Buku Happy Healthy Food: Eat Healthy Without Worry oleh Nadia Lukita

2001-2011

Di tahun 2005 tepatnya pada saat Kim Ji Yeong lulus Universitas, ia melihat data dari sebuah situs yang mengatakan bahwa jumlah perempuan yang diterima di perusahaan hanya sekitar 29,6% saja sedangkan sisanya adalah laki-laki.

Lalu ia juga mendengar kabar dari temannya bahwa dahulu ada seorang kakak perempuan di Fakultasnya yang pintar dan merupakan lulusan terbaik di Fakultasnya, ia juga aktif mengikuti kegiatan seminar mahasiswa.

Namun saat ia meminta surat rekomendasi dari pihak Universitas untuk melamar pekerjaan di perusahaan ia selalu ditolak dengan alasan mereka sudah memberikan surat rekomendasi kepada empat orang mahasiswa laki-laki di kampusnya.

Benar saja, Kim Ji Yeong merasa kesulitan saat mencari pekerjaan. Puluhan surat lamaran ia kirim ke berbagai perusahaan akan tetapi belum ada juga yang memanggilnya untuk melakukan Interview.

Hingga tiba di suatu siang ia berhasil Interview dan bekerja di perusahaan itu. Di tempat ia bekerja ia juga mengalami perlakuan yang buruk dari atasannya.

Baca Juga: Review Buku Resign oleh Almira Bastari- Resign?, Siapa Takut

2012-2015

Hingga ia pun memutuskan menikah, dan berhenti bekerja. Di dalam buku ini diceritakan bahwa pada kenyataannya diskriminasi dan kekerasan terhadap perempuan tidak hanya dilakukan oleh laki-laki akan tetapi banyak juga perempuan lain yang tanpa sadar telah menyakiti hati perempuan lainnya. 

Setelah menikah, Kim Ji Yeong mendapatkan perlakuan yang menurutnya kurang mengenakan. Ini terjadi saat dirinya yang ditanya mengenai kapan mereka akan mempunyai anak.

Saat itu Kim Ji Yeong merasa bahwa dirinya dan suaminya Jeong Da Hyeon akan menikmati dulu hari-harinya sebagai pasangan suami istri. Namun keluarga suaminya berpikir lain, mereka ingin segera meminang cucu.

Bukannya merasa senang atas kehamilannya, Kim Ji Yeong malah dihantui perasaan takut jika kelak yang lahir adalah seorang anak perempuan. Pada saat itu ia akan merasa bangga kepada mertuanya jika ia melahirkan anak laki-laki.

Pasca melahirkan pun begitu, ternyata ia melahirkan bayi perempuan yang cantik dan keluarganya pun menanyakan kapan akan punya anak laki-laki, anak kedua, anak ketiga dan seterusnya seolah-olah wanita diharuskan untuk memenuhi semua ekspektasi dan tuntutan dari orang-orang di sekeliling mereka.

Buku Kim Ji Yeong menyadarkanku bahwa menjadi seorang perempuan itu banyak sekali tantangannya, berkat buku ini aku jadi semakin paham mengenai kedudukan dan peranku sebagai seorang perempuan baik itu di lingkungan keluarga dan masyarakat.

Sebenarnya sejak dahulu Kim Ji Yeong ingin sekali bersuara namun pada akhirnya ia tidak melakukannya dan hanya memendam semua pikiran, perasaan dan pendapat mereka rapat-rapat.

Ia sadar bahwa saat itu ia tinggal di masyarakat yang menganut misoginis. Ia tahu betapa berbahayanya bagi seorang perempuan jika ia menyuarakan pendapat di tengah-tengah masyarakat yang misoginis.

Sumber gambar: Buku Kim Ji Yeong, lahir tahun 1982 | Photo via biancatwinbee.blogspot.com

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *